Langsung ke konten utama

Belajar dari Sistem Pendidikan Negara Lain

Indonesia menduduki peringkat 72 dari 77 negara dalam sekmen pendidikan berdasarkan hasil penelitian terakhir tahun 2018 tentang Programme for International Student Assessment (PISA) oleh Organisation for Economic Co-Operation and Development (OECD). Dalam hasil publikasi yang dapat diakses pada situsnya, pelajar Indonesia memiliki literasi, matematika, dan sains berada di bawah rata-rata nilai yang distandarkan oleh OECD. Bongkar pasang kurikulum kerap kali dilakukan guna menaikkan tingkat pendidikannya. Namun, berhasilkah?

Salah satu syarat sebuah negara memiliki tingkat pendidikan yang tinggi dapat dimulai dari nilai literasinya. Peringkat literasi Indonesia yang diumumkan oleh Central Connecticut State University (CCSU) dalam World's Most Literate Nations pada tahun 2016, peringkat literasinya berada pada nomor 60 dari 61 negara. Survei ini didasarkan pada nilai pendidikan, ukuran perpustakaan, dan kemudahan dalam mengaksesnya. 

Lalu bagaimanakah cara untuk meninggalkan keterpurukan ini? Seperti yang kita ketahui bahwa anggaran pendidikan yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia sudah naik dari 375,4 triliun pada tahun 2014 menjadi 505,8 triliun pada tahun 2020 ini. Peningkatan yang sangat jauh dari anggaran dana yang diberikan sebelumnya. Permasalahannya adalah, meningkatnya anggaran dana, tidak linier dengan kenaikan tingkat pendidikan. Tantangan Indonesia pun semakin berat dengan adanya pandemi Covid-19. 

Mari berkaca ke negara yang sempat menjadi juara bertahan dalam peringkat PISA, Finlandia. Finlandia menerapkan sistem evaluasi pembelajaran yang tidak wajib dilakukan oleh pelajar. Hanya terdapat 1 ujian yaitu Ujian Matrikulasi Nasional (UMN) yang diselenggarakan di tahun ke-12 sekolah. Alasan tidak adanya ujian di negara ini karena pendidik di sana beranggapan bahwa siswa hanya belajar dan berusaha untuk mendapatkan nilai terbaik saat ujian. Sehingga yang didapat hanya lolos dan tidak perlu terbebani dengan ujian. Selain itu guru-guru yang mengajar memiliki kualifikasi tinggi. Bayangkan saja seorang guru minimal harus memiliki gelar S-2 untuk mengajar. Selain itu lingkungan belajar yang ditawarkan bersifat kooperatif artinya siswa harus saling membantu bukan saling bersaing untuk menjatuhkan atau menyusul yang lainnya. PR dan tugas tidak dijadikan sebagai beban bagi para siswa karena sangat jarang diberikan. Terakhir budaya membaca sudah dilatih sejak pendidikan dasar agar mencintai kegiatan membaca. Tujuannya agar lebih mudah untuk para siswa menyerap ilmu dan informasi di sekolah atau di rumah.

Sistem pendidikan yang ada di Finlandia sangat bertolak belakang dengan sistem pendidikan yang diterapkan di kawasan Asia. Seperti contohnya di wilayah Singapura, Korea Selatan, China, dan Jepang mereka menerapkan jam belajar yang lebih panjang. Dimulai dari waktu sekolahnya, tambahan PR dan tugas, lalu jam belajar tambahan kursus yang diikuti selepas pulang sekolah. Nyatanya sistem ini telah berhasil bertahan dan menyusul Finlandia yang selama ini bertahan di 3 besar sejak penelitian PISA tahun 2000 diumumkan. Lantas bagaimana sistem pendidikan yang ada di kawasan asia?

Jika melirik ke daerah Jepang yang kita tahu memiliki sumber daya manusia (SDM) yang sangat baik dan berdisiplin tinggi, ternyata mereka memilki rahasia pendidikan moral pada anak usia dini. Sebuah artikel yang berjudul Kurikulum dan Kompetensi Guru di Jepang oleh Ahmad Sentosa, dijelaskan bahwa saat masih di bangku taman kanak-kanak (TK), siswa dikembangkan dan dilatih kebiasaan sehari-harinya. Fokus utama berada pada pendidikan bukan pengajaran. Saat masuk sekolah dasar (SD), terdapat mata pelajaran kebiasaan hidup di kelas 1 dan 2 untuk membiasakan pola hidup mandiri. Di sana pendidikan moral yang sudah mencakup pendidikan agama tidak diberikan dalam 1 kelas khusus, tetapi diajarkan oleh wali kelasnya masing-masing yang bersinggungan dengan pelajaran lainnya.

Di tingkat SMP pendidikan bahasa Jepang, bahasa Inggris, matematika, IPA, dan IPS menjadi fokus utama. Seperti halnya di Indonesia juga menerapkan ekstrakurikuler di tingkat ini. Untuk tingkat SMA paling sering mengalami perombakan kurikulum, uniknya di tingkat ini penjurusan sudah dibagi menjadi lebih spesifik. Kalau dibandingkan dengan Indonesia yang baru saat masuk perguruan tinggi, tentunya pembagian ini lebih cepat daripada yang diterapkan di Indonesia.

Kalau dilihat kembali, sebenarnya keduanya memiliki kemiripan yang sama yaitu kompetensi dari guru dan siswanya. Keduanya sama-sama memiliki kompetensi guru yang sangat baik. Sejauh ini yang saya ketahui di Jepang tidak ada kualifikasi khusus seperti di Finlandia yang menharuskan guru berpendidikan S-2. Tetapi perlu diingat cetakan hasil pendidikan di Jepang biasanya memiliki SDM yang berkualitas, mereka memiliki loyalitas sebagai pengajar yang tinggi. Selain itu pelajarnya juga dibiasakan untuk memiliki tabiat baik sejak dini. Gemar membaca seperti yang dilakukan oleh negara Finlandia dan Jepang menjadi tolok ukur bagaimana menerapkan sistem pendidikan yang baik untuk Indonesia ke depannya. Mungkin kalau melihat pendidikan di Indonesia yang pendidikan moral dan agama hanya "diuji" melalui tes, tentunya menerapkan sistem pendidikan di Jepang untuk anak usia dini lebih tepat. Karena nyatanya sampai sekarang masyarakat Indonesia kebanyakan memiliki kekurangan moral dalam bidang kehidupan sehari-hari. Contoh kecilnya adalah cara membuang sampah. Karena kita tidak bisa menilai kearifan seseorang melalui nilai yang terukur, tetapi dari bagaimana cara ia menjalani kehidupan. 

Tipe pendidikan manakah yang cocok diterapkan di Indonesia? Dikembalikan kepada Anda para pembaca setia, karena keduanya memilki nilai positif dan negatifnya masing-masing. 


Salam Semangat,


Aziz Naufal Hadi




Country Note PISA 2018 untuk Indonesia dapat diakses di sini:
Peringkat PISA 2018
Sumber: zenius.net




















Komentar

Postingan populer dari blog ini

Menentang Hijab, Aktivis Wanita Tak Berbusana Depan Umum

Aktivis wanita di Iran melakukan aksi unjuk rasa dengan sangat menggegerkan. Bagaimana tidak? Para aktivis wanita ini melakukan aksi menentang hijab dengan tanpa busana di Stockholm. Mereka menuliskan slogan-slogan penolakan pada tubuh mereka. Beberapa slogan yang mereka pakai yaitu “saya telanjang untuk protes” dan “katakan tidak untuk hijab” Para anggota Partai Komunis Iran dan Organisasi Melawan Kekerasan Terhadap Perempuan di Iran mendedikasikan aksi mereka dalam memperingati Hari Perempuan Internasional pada 8 Maret. Unjuk rasa aktivis wanita ini bahkan menolak undang-undang syariat di Mesir. Mereka mengatakan “undang-undang bukanlah syariat” Memang boleh menyampaikan pendapat, namun apakah kita harus melupakan atas kebebasan beragama? Seorang wanita muslim diwajibkan untuk mengenakan hijab setiap hari. Tentunya ini ada maksud dari agama. Ketika seorang akhwat mengenakan hijab maka insya Allah kehormatannya akan dijaga oleh Allah swt.

P3K, Mie Solusinya

Istilah P3K atau biasa kita kenal dengan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan memang sudah memasyarakat. Namun, berbeda dengan istilah P3K yang lainnya yaitu Pertolongan Pertama Perut Keroncongan. Biasanya dalam keadaan terbatas tentu tidak ada makanan, maka dari itu ortang senang dengan makanan instan, misalnya adalah mie. Cara pembuatan mie pun tidaklah sulit. Peralatan yang kita butuhkan tidak banyak, kita hanya memerlukan panci, mangkuk, dan sendok. Cara membuatnya adalah merebus mie itu 2-3 menit. Setelah itu membuka bumbu dan tuang ke atas mangkuk.Selanjutnya mie dituang ke mangkuk yang telah diberi bumbu dan aduk hingga rata.

Tegakkan Syariat Ayo!

“Suatu ketika ada seorang akhwat sedang melewati sebuah perkampungan. Orang-orang di kampung itu datang dan menarik hijab dari sang akhwat itu. Terbukalah rambutnya. Datang seorang laki-laki bermaksud untuk melindungi akhwat tadi. Karena kesal orang-orang di kampung itu memukul laki-laki tadi hingga meninggal. Mendengar hal itu, Rasulullah saw langsung datang dengan membawa pasukan perang.” Mari kita ambil hikmah dari potongan cerita tadi. Islam dalam menegakkan syariatnya sangatlah tegas. Apalagi yang berhubungan dengan kehormatan seseorang. Bukti dari tegasnya Islam dalam menegakkan agama, ketika Rasulullah langsung akan memerangi orang di kampung itu. Seorang akhwat tadi yang kehormatannya dilecehkan dengan membuka auratnya menjadi padangan kritis oleh Rasulullah. Mari tegakkan agama kita! Allahu Akbar!
Cool Neon Green Outer Glow Pointer